TRAFFIC
BIDADARI PRIBUMI

Dalam BUMI MANUSIA, Pramoedya Ananta Toer mengisahkan perjalanan sang bidadari indo bernama Annelis Millema yang penuh dengan teka teki, keceriaan, kemurungan, kegembiraan, emosi, tangisan karena himpitan zaman feodalisme pergerakan, namun dihadapinya dengan keikhlasan didampingi manusia pribumi : Minke yang pada akhirnya harus berakhir tragis dan mengenaskan sebagai akibat dari efek pergolakan politik dalam Rumah Kaca, namun diakhir kisah Pramoedya dengan lantang menegaskan : " Dia Runtuhkan mereka yang berkuasa dan naikkan mereka yang terhina " (Teatrologi BUMI MANUSIA - Pramodeya Ananta Toer)
========+++++========
Modern ? entah apa arti kata tersebut, sejak awal abad 20 kata modern selalu diindentikkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan penemuan manusia dari mesin hingga jaringan seperti sekarang ini, yang membuat jarak begitu dekat. Cahaya mentari bersinar cerah ketika aku ingin sekali berselancar didunia maya, Internet? ya itu dia istilahnya, dan sekali lagi ntah apa maksudnya tapi yang jelas benda maya ini dapat membuat manusia terhubung begitu dekat, sedekat jari jari tangannya sendiri, sedekat itukah.? Mungkin saja.
LOVELY ROSI, nama itu memang tidak aneh ditelingaku, namun dalam ketidak acuhannku selama ini ternyata sirna, aku baru sadar ketika kuperhatikan foto yang terbingkai dalam dunia maya itu tersenyum, ah aku terpesona dibuatnya, seindah permata? mungkin saja tidak, karena aku sendiri belum pernah melihat sebuah permata. Ketika kukatakan ia cantik, dia membantahnya, karena menurutnya difoto sangat berbeda dengan yang nyata, mungkin saja ia benar, mungkin saja tidak, namun aku tetap pada pendirianku : Ia cantik, mempesona bagai bidadari, ya..bagai bidadari tetapi bukan dari kayangan yang penuh hayalan, cukuplah aku katakan..IA SECANTIK BIDADARI PRIBUMI..!!
Wanita memiliki semua keindahan bagi siapa saja yang melihatnya, tergantung dari sudut mana ia memandangnya, tidak semua wanita secantik pribumi, kadang ada saja wanita berlagak modern. gengsi, sok gaul atau apapun namanya berlaku seperti manusia Indo (barat.red) bukan pribumi walau nenek moyangnya seorang petani ataupun buruhtetap saja ia enggan mengakuinya, bertolak belakang memang.! seperti halnya juga kaum buruh yang tertindas oleh kebijakan dan kebusukan para elit borjuis diparlemen, masih untung aku bisa masih merasakan betapa indahnya Lovely Rosi bidadari pribumi itu, walaupun kelak akhirnya aku tidak dapat menggapainya dalam pelukanku.
Naif memang jika aku mengharap terlampau tinggi sementara kelasku cuma buruh pribumi yang kadang ditindas oleh pribumi lainnya untuk menjadi seorang budak.! tapi aku tidak akan pernah merangkak dihadapan mereka.! Dan untuk Lovely Rosi, aku sampai detik ini hanya bisa mengagumi, tanpa harus berharap, karena sebuah pengharapan akan mendatangkan kerancuan semata bagiku, bagi seorang manusia pribumi yang masih berkutat dengan berbagai permasalahannya....jangan tunggu aku menyukai, karena bagiku semua wanita pribumi adalah bidadari dimataku, tinggal mereka bilang suka dan aku akan menerima apa adanya, siapapun dia.!..aahhh..aku menguap letih, kukutip lagi kalimat sang maestro BUMI MANUSIA " Memang bukan sesuatu yang baru jalan setapak ini,..memang selalu sering ditempuh, hanya saja sekarang perjalanan pematokan.." dan akupun tertidur.
FAKTA VOICE : Cerita diatas hanyalah fiktif semata, tokoh dan foto adalah asli pemilik yang sebenarnya, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih atas kesediaannya untuk menjadi model dari cerita diatas
KESAKSIAN PRIBUMI

Annelis millema bidadari indo itu kini tertimpa petaka, ketika pengadilan putih tidak memihak pada keturunan darah pribumi,Minke sang pujangga hati berusaha untuk melawan ketidak adilan ini, namun kalau soalnya hukum, orang tidak perlu mengubah perasaan atau air muka, walhasil sama saja....yang menentukan tetap hukum itu,..licik, munafik batinnya menjerit, aku harus melakukan perlawanan, aku tak punya sesuatu pengertian bagaimana harus melawan, apa yang dilawan, siapa dan bagaimana, aku tak tahu alat-alat dan sarananya, biar begitu : AKU MELAWAN.! (Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer)
=====++++++++=======
Mendung menyelimuti kota tercintaku Pontianak dalam beberapa bulan terakhir, mendung itu terus bergeser dimana tempatku mengais kebutuhan, sebuah mendung petaka : Pemogokan.! Namun semuaya terselesaikan dengan dingin, sedingin para borjuis kapitalis negri ini yang merampok hak-hak rakyat.
Dan aku kembali ke sediakala, kupandangai sesosok wajah nan cantik jelita itu..BUNGA MUSLIMAH.! tak terasa sudah 5 tahun kebersamaan itu tercipta, masih saja ia seperti itu, mempesona bagi siapapun yang memandangnya, penuh intrik, dan misteri dalam hatinya ..dan akulah orang yang paling mengetahuinya.!!

Berjibab dan mempesona bagi siapapun itu hal yang biasa, namun penolakan yang dilakukannya teramat sering ku dengar dan aku saksi bagi orang-orang yang merasa tertolak oleh bidadariku yang cantik ini. "Aku cuma kagum aja bang.." itu yang sering dilontarkan waktu aku tanya alasan penolakan itu, dan aku terdiam seribu bahasa, akupun menyayanginya, jujur saja akupun tertarik tetapi bukan tertarik seperti mereka yang tertolak. Dan akupun tidak akan pernah mau untuk menjadi orang yang tertolak oleh bidadariku ini, cukup mereka saja.! karena aku bukan seperti mereka.! aku adalah aku seorang manusia pribumi yang terikat oleh saksi bahwa dia adalah adikku.! walau kadang aku ingin memeluknya tapi tetap saja harus aku bantah.! seperti halnya Rezim yang dengan kekuasaanya menyodorkan permata, akan aku tolak untuk sebuah saksi atas orang-orang pribumi yang tertindas.!
Dan disore yang mendung itu pula bidadariku yang cantik ini tanpa jilbab.! bukan sekali ini saja sebenarnya, tapi sore itu ia tampil memukau dihadapanku, kutepis segala kemunafikanku dan harus jujur kukatakan ia bukan milikku, ia akan menjadi milik seseorang ntah siapa yang beruntung akan memiliki keindahan itu. Dan aku harus tahu diri, aku hanyalah seorang saksi pribumi yang hanya bisa mengagumi tanpa harus kurangkul dia dalam darahku, seperti halnya aku harus tahu diri bahwa elit-elit borjuis telah menanamkan epos kapitalistik dimata rakyat hingga saat ini tidak berkutik untuk melawan penghisapan dan perampokan hak-hak mereka, Aku terdiam dalam bara yang membara.

Baraku untuk rakyat, baraku untuk sebuah perlawanan, tapi hatiku untuk sebuah cinta yang sampai kini belum bisa aku sandarkan pada wanita manapun, entah kenapa, kalau bidadariku ini menjadi orang yang menolak, justru aku selama ini sering menjadi orang yang tertolak, Trauma? ah..tidak juga, aku lebih tarauma lagi dengan kemunafikan para pemegang kekuasaan direpublik ini yang penuh dengan para tersangka yang berhasil menipu rakyatnya untuk memilih mereka tetapi ketia berkuasa, para antek-anteknya melakukan perampokan besr-besran terhadap uang rakyat.
Ingin memang aku punya sandaran hati dan nyanyian jiwa yang akan menjadi pendampngku kelak, aku tidak suka wanita cantik, bukan berarti aku tidak suka Bungaku, aku sayang ma dia tapi tetap saja aku harus berontak untuk sebuah saksi bahwa dia adalah adikku.! dia bukan hakku untuk hari ini, tapi bukan untuk selamanya, mungkin nanti aku akan kembali menjadi saksi pribumi atas pernikahannya dengan orang yang berhak memilikinya, yah..mungkin saja..kenapa tidak?! bukankah aku hanya seorang saksi yang hanya mampu menyayanginya sepenuh hatiku tanpa perlu aku memeluknya walau sekejap.?! Kau berhak memilikiku bunga..tapi aku tak berhak untuk memilikimu...entahlah aku sendiri tidak tahu alasannya
Dan hujanpun turun dengan derasnya, sederas hatiku untuk kembali mengarungi kerasnya kehidupanku sendiri, kembali aku terngiang kalimat sang maestro "..Cerita dibumi manusia selamanya bicara tentang manusia, bukan kematiannya....dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia...maka untuk beroleh paham akan perihal itu, seorang terpelajar dituntut bisa berlaku adil sudah sejak dalam pikirannya.."(Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer
FAKTA VOICE : Cerita diatas hanyalah fiktif semata,
